Surga Di Tanah Sumatera, Teluk Kiluan 28 – 31 Maret 2014

Akhirnya, setelah sekian lama berkeinginan riding ke Sumatera, mencicipi tanah kelahiran almarhum bapakku, kali ini saya akhirnya menyeberangi selat Sunda menuju kota di ujung pulau Sumatera yaitu Lampung.

Destinasi yang saya tuju adalah ke teluk Kiluan, tempat yang kononnya sangat indah dengan pantainya yang bersih dan berada di balik bukit dengan jalanan yang menantang. Bahkan om Dono Andomo sang Tiramisu said “It’s not for the faint hearted”, karena memang bukan untuk yang menginginkan perjalanan yang mulus, mudah, dan adem. Bagaimana tidak, sejauh perjalanan dari kota Bandar Lampung memasuki Kiluan kita akan disajikan jalanan rusak menanjak dan turunan terjal sejauh kurang lebih 50km.  Not for the faint hearted, that’s true. Memang perlu niat yang tulus untuk dapat menuju tempat destinasi favorit ini.

Berangkat dari titik kumpul di CBD Ciledug jam 11 malam, kami berenam (Berlandio, Dony Vingky a.k.a Donimoto, Davido, Ipul, Kiki dan om Rahmat Gunawan) berangkat menuju Merak. Pada awalnya, saya berencana untuk menguji daya tahan dan kualitas prototype panniers lokal buatan sang comrad Jack Xventure, panniers berkapasitas 37lt tersebut saya isi dengan muatan seperlunya, namun apa daya ternyata bracket saya kurang kuat dikarenakan fitting yang kurang sempurna. Alhasil, bracket yang goyang karena menahan beratnya panniers, berbuah baut yang copot setelah menerjang rel kereta di daerah Tangerang. Sehingga diputuskan untuk menitipkannya di rumah Kecap Prics, a.k.a om Reza. Walaupun gak enak hati karena kondisi sudah tengah malam, namun sepertinya memang tidak memungkinkan terus membawanya ke Kiluan yang terkenal dengan offroadnya. Next trip akan kuuji Panniers ini 🙂

Sampai di Merak dengan tiket masuk 39ribu per motor dan memakan waktu hanya kurang lebih 2 jam di kapal ferry, kami sampai di Bakaheuni jam 6 pagi. Kondisi kapal tidak begitu baik, karenanya saya tidak bisa istirahat. Jadilah perjalanan kali ini adalah tanpa tidur.

Trouble kembali terjadi setelah turun dari kapal karena ban belakang Prime tiba-tiba bocor. Entah plat apa yang menyebabkannya bocor… Di SPBU pertama setelah pelabuhan, kami bertemu di titik kumpul kedua dengan para Bapukers, Reno & Hulk, Nova Prides Cebe, om Slamet dan Suraji

..

Perjalanan di Lampung dengan cuaca yang panas sekali ini pun dimulai dan perjalanan ke Kiluan memakan waktu dari jam 7 pagi berangkat sampai dengan jam 4 sore dengan rute dari Bandar Lampung menuju Padang Cermin, kemudian dilanjutkan ke kecamatan Punduh Pidada dengan kondisi jalanan yang mulai rusak sampai dengan Desa Bawang yang merupakan gerbang Kiluan.

Dari Gerbang Kiluan, masih ada sekitar 5-7 km lagi menuju lokasi pantai dengan turunan curam rusak, sampai rombongan kami mengalami trouble dan juga terjatuh di lokasi turunan curam tersebut. Sementara roda belakang Prime mendecit karena dengan kecepatan yang lumayan cepat, melewati turunan tersebut yang ternyata rusak dengan lubang besar ditengahnya, jadi pilihan satu-satunya adalah jalur kanan yang berlubang dan penuh batu-batu besar dan kerikil, rem belakang akhirnya terpaksa bekerja lebih ekstra.

Di daerah Desa Bawang, Riders akan menemukan rumah-rumah khas Bali dengan ornament unik mereka. Ternyata memang terkenal banyak orang Bali disini, dan mereka kerap melakukan tradisi mereka seperti ngaben, dll. Dan setelah melewati pemukiman Bali tersebut, maka Riders bisa akhirnya bernapas lega karena jalan sudah lebih baik, walaupun masih rusak. hahahaha 😀

Akhirnya sang Surga di tanah Sumatera tersebut pun dicapai 🙂 Untuk informasi, riders dapat memarkirkan motor di depan rumah makan yang berada di ujung lokasi pantai Kiluan dengan biaya 5ribu rupiah per motor. Destinasi yang harus Riders kunjungi adalah pulau Kelapa, karena disana, pantai pasir yang putih jernih, area snorkeling yang cukup bagus dan titik berangkat menuju lokasi para Lumba-Lumba bermain adalah disana. Untuk mencapai Pulau Kelapa, Riders dapat menaiki jukung milik warga, dan perlu diingat apabila Riders ingin mendirikan tenda disana ada biaya retribusi a.k.a biaya lapak. Biaya sewa alat snorkeling dan juga tentunya biaya apabila mau buang air….. Rinciannya sebagai berikut:

Perahu Jukung PP ke Pulau Kelapa : 15rb
Parkir motor : 5rb
Sewa lapak tenda: 60rb per tenda
Sewa peralatan snorkeling (google, kaki katak, pelampung) : 50rb – Tapi bisa juga Riders hanya menyewa satuan dengan harga yang lebih murah
Toilet : 5rb (Catatan apabila ingin mandi, lebih baik di Kiluan saja, jangan di Pulau Kelapa karena airnya payau)
Sewa jukung untuk melihat lumba-lumba: 250ribu per jukung, kapasitas 3 orang

Kami bermalam disana dengan tenda dibawah naungan langit hitam gelap dan bintang, diiringi raungan ombak kecil merdu dan api unggun. Beberapa dari kami, termasuk saya akhirnya tertidur pulas karena perjalanan kami yang non-stop tanpa tidur dari berangkat.

Tips untuk Riders: siapkan bekal yang cukup seperti makanan ringan, popmie, makanan dan juga air mineral. Karena harga air mineral di pulau ini lumayan mahal, 10 ribu untuk air mineral 600ml. Pantai pulau Kelapa ini hanya bagus dibagian depan, sementara apabila kita melihat ke bagian belakang, pantai yang ada malah kebanyakan terdapat sampah kayu-kayu besar ,karang dan menghadap langsung ke samudera. Menurut informasi warga, terdapat 2 spot untuk snorkeling yang cukup bagus, walaupun saya tidak dapat menemukan apa yang disebut bagus itu.. Snorkeling di teluk cukup aman karena tidak adanya ombak besar. Tapi tetap jangan lupa bawa DSLR dan camera underwater untuk dapat menangkap momen-momen berharga dan lompatan para lumba-lumba. Walaupun kali ini, kami tidak sempat untuk mengabadikan momen ke tengah lautan.. Tapi kami sudah cukup puas dengan mengeksplor pulau dan snorkeling seharian.

Perjalanan pulang menuju Bandar Lampung karena sudah terlalu malam, maka kami memutuskan untuk kembali bermalam di kediaman teman kami. Jangan juga lupa untuk menyambangi Baso Sonhaji Sony. Baso yang populer di Lampung, bahkan sangat ramai pengunjungnya ketika kami sampai disana malam hari.

…..

Dan juga jangan lupakan Menara Siger untuk disambangi, karena disana adalah tugu 0 kilometer pulau Sumatera

Sampai di Bakaheuni, kami mendapatkan kapal yang lebih baik daripada kami berangkat. Maka kami beristirahat diruangan lesehan ber-AC dengan biaya tambahan 7ribu rupiah ditambah bantal 3ribu rupiah, hahaha. Tertidur pulas, sampai Merak. Perlu juga dicatat, para pengemudi motor dan mobil ketika sampai turun di Merak seperti orang-orang yang buru-buru mau pulang layaknya kebelet buang air besar, jadi Riders lebih baik defensive riding dengan lebih waspada dan menjaga jarak, karena tidak jarang juga, banyak alay-alay yang selap selip tidak karuan disana..

Yup, perjalanan yang sangat berkesan, tenagaku bahkan seperti terus terisi karena bagaikan ruh tetap tertinggal di pulau Jawa tercinta. Perjalanan ke Kiluan bagai tanpa lelah, walaupun mata sudah ingin terpejam tidur pulas, dengan mimpi bertemu monster laut :3 Tidurku yang paling pulas, terlelap puas di dalam tenda, teluk Kiluan, Surga di Tanah Sumatera. – THE END

Advertisements

11 thoughts on “Surga Di Tanah Sumatera, Teluk Kiluan 28 – 31 Maret 2014”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s