Category Archives: Riding Tips

Sukses dan Serunya Coaching Clinic – Indonesia Ride Adventure II

Berawal dari coaching clinic yang Jackline adakan di bulan Mei, kali ini coaching clinic II kembali diadakan di tanggal 14-15 Juni yang lalu. Coaching kali ini yang bertajuk tema “Get Ready For Adventure” memberikan pengalaman dan pembelajaran yang lebih beragam dan komplit untuk mengendalikan motor lebih baik lagi. Sayangnya di coaching kali ini, Prime tidak dapat hadir menemani saya dan akhirnya setelah hampir saja memakai Yamaha X-Ride, tiba2 saja tersontak ide untuk meminjam si Pulsar UG3 milik om Dudi.

Berbekal motor UG3 itulah, saya sebagai panitia pelaksana di acara ini menjadi sweeper untuk maju dan mundur mengawasi rombongan peserta yang berjumlah lebih dari 25 orang, sangat banyak sehingga saya sendiri gak bisa menghapal nama-nama mereka satu persatu. Terbantu sekali dengan si UG3 yang sudah diperbesar gear belakangnya tersebut, menjadikan tarikan di RPM rendah ke tengah sangat bertenaga!

Om Jack dan saya dibantu oleh tim medis om Edi Blazer dan fotografer om Yudi dan juga dibantu oleh om Setyo memulai perjalanan kami dari titik pertama di Sentul menuju Cibodas, dengan melalui jalur Citereup, Jonggol, Quilling, Sodong sampai ke titik akhir camp di Cipanas-Cibodas. Para peserta yang berjumlah lebih dari 25 orang, ditambah dengan kru media extremeINA dan juga salah satu sponsor dari A1AM Gear yaitu om TB Irfan Arifahni, berangkat agak telat dari perkiraan yaitu pukul 10 pagi.

Di tengah perjalanan, para peserta dibekali teori dalam mengendalikan motor seperti pengendalian throttle, braking dan juga bagaimana riding position dikala adventure. Para peserta juga diajak berkeliling di lapangan tarmac untuk simulasi berkendara melewati kubangan lumpur untuk mengetahui apa itu aquaplaning, alias mengendalikan traksi ban ketika ban berada diatas media yang menyebabkan ban memiliki grip yang sangat minim. Alhasil, beberapa peserta ada yang terjatuh karena keliru dalam memainkan gas. Hal ini akan memberikan pelajaran, bahwa traksi ban harus dikendalikan dengan benar terutama dalam hal penguasaan throttle. Jangan menekan gas terlalu dalam dan tarik ulur throttle ketika motor berada di atas media seperti genangan air ataupun lumpur.

This slideshow requires JavaScript.

adventure, coaching clinic adventure, jackline indonesia, off road,  pelatihan berkendara sepeda motor, safety riding, grasstrack indonesia, motocross indonesa, indonesia ride adventure

Sedikit jeda di saat jam krusial perut sudah memainkan musik kroncong, kami bertandang di Saung Bagus Quilling untuk makan siang. Dimana para rider disajikan breathtaking scenery dari pegunungan di daerah Jonggol Cariu ini. Kebersamaan kami juga smakin hangat dimana beberapa lembar daun pisang, dijejerkan tepat didepan mata kami, dengan nasi lemak yang menggugah selera dengan ikan teri, sambal, balado tempe tersaji mengiringi gelak tawa.

Sedikit coaching mengenai berkendara di kontur bukit kecil diatas sawah ini, juga memberikan pelajaran bagi para peserta mengenai body balance, position, dan lagi2 pengendalian throtlle dan braking.

Perjalanan dilanjutkan dengan melewati “rock garden” atau tanjakan dan turunan berbatu. Kalau adventure seperti ini sering kali lekat dengan image motor trail, kali ini bahkan ada matic, bebek dan juga jap-style moto milik salah satu kru extremeINA yang meliput event ini juga ikut serta. Bukan lagi aspal yang kami lewati, melainkan hanya susunan batu yang dijejerkan sedemikian rupa setelah diterpa hujan. Licin? Pastinya, namun disinilah mental dan bagaimana strategi para rider di test. As the result, ada beberapa rider yang terjatuh karena kehilangan traksi dan bahkan ada juga yang kampas kopling sudah terkikis habis. Sang Tiger yang kehabisan kampas kopling ini pun harus dibawa ke bengkel ditengah perjalanan kami, sehingga waktu sampai ke lokasi pun akhirnya di malam hari sekitar pukul 10.

adventure, coaching clinic adventure, jackline indonesia, off road,  pelatihan berkendara sepeda motor, safety riding, grasstrack indonesia, motocross indonesa, indonesia ride adventure

adventure, coaching clinic adventure, jackline indonesia, off road,  pelatihan berkendara sepeda motor, safety riding, grasstrack indonesia, motocross indonesa, indonesia ride adventure

Di Cibodas, tepatnya didekat ex- wisma Jamur tersebut tersaji pemandangan yang penuh hijau dan diiringi bunyi riak air sungai yang menemani kami tertidur pulas. Di pagi harinya, kami sharing mengenai banyak hal mengenai moto adventure, dibantu oleh om Amink (FreakRider Bangor) dan juga bro Gugum, dan om Dharma diskusi kami menjadi semakin menarik saja. Tanpa terasa perbicaraan pun semakin hangat ketika om Vincent dari Contin Motosport hadir di lokasi camp dengan Ducatinya.

Di lokasi camp ini juga diadakan games seru “Body Balancing”, dengan menggunakan peralatan sederhana, kami jejerkan batang pohon sehingga menjadi satu lintasan dimana para peserta harus melewati dari garis start ke garis finish, dimana yang memiliki waktu terlama dialah pemenangnya. Terdengan simple, dan kelihatannya sangat mudah, tentunya apabila rider melewatinya begitu saja. Namun untuk memiliki waktu terlama, rider harus menghadapi sulitnya menyeimbangkan motor dan tidak menyentuh obstacle (batang pohon) yang dijejerkan tersebut. hehe. Sudah cukup sulit? Bahkan ada rider yang kesal sampai menendang batang pohon 😀

Belum selesai keseruan, kami membagikan doorprize yang disponsori oleh Contin Motosport berupa Mini flanker tankbag, jas hujan dan safety vest, Bois Tois jersey, dan jas hujan dari Arby Byshop. Seruuuuu! Karena ditambah sedikit hujan yang agak labil, haha.

Acara kami di Cibodas pun selesai sekitar pukul 1 siang. Dan seolah semuanya keceriaan ini belum mau kami sudahi, kami kembali melalui jalur crosscountry melalui jalan potong dari raya Puncak menuju Cipamingkis. Ditambah dinginnya hujan dan kabut yang tebal, keceriaan ini makin tambah jadi seru. Hebatnya, para lady biker yang ikut di event ini (iis & Neng) di event ini melaju sangat percaya diri, Iis yang di coaching pertama harus membangunkan motornya berulang kali, di event ini bahkan saya pun harus menderu si UG3 ketika harus menyusulnya.

Yup, serunya dan suksesnya acara ini saya berharap agar dapat menjadi manfaat bagi semua yang mengikutinya. 🙂 See ya on the next event, dmana kali ini, Indonesia Ride Adventure akan mengadakan coaching clinic III dengan tema “survival” dimana para peserta akan diajarkan bagaimana pertolongan pertama dengan “CPR”, dan juga basic Navigasi.

Tertarik ikut komunitas seru ini? Search group Indonesia Ride Adventure di Facebook, atau klik langsung di https://www.facebook.com/groups/631933426875390/

Beberapa liputan dari para team Media yang mensupport acara ini:

http://extremeina.com/?p=2084

http://motor.sportku.com/berita/community/52859-adventure-bermotor-semakin-diminati

http://jackbiker.com/2014/06/15187/perdalam-skill-di-indonesia-ride-adventure-ii/

 

 

Pemerasan Di Daerah Wisata

Terdengar familiar? Atau Riders pernah mengalaminya sendiri? Ya, pemerasan di daerah wisata, atau mungkin dapat Berlandio sebut sebagai pungli/pungutan liar berkedok retribusi adalah hal yang kerap kali kita temui di daerah wisata. Mungkin saya tidak dapat menyebut semua daerah wisata terdapat pemerasan, tapi hampir semua daerah wisata populer kita diperas disana.

Pengalaman demi pengalaman yang saya dapatkan selama berlibur didaerah wisata sebenarnya bukanlah sepenuhnya kesenangan yang didapat, namun juga keprihatinan ketika mengalami pemerasan.. OK, straight to the point, pengalaman terakhir saya berwisata di pantai Kiluan tempo hari yang lalu dimana saya mendapatkan suatu kesan bahwa ternyata daerah wisata yang sulit dijangkau dikarenakan akses jalannya yang rusak, ternyata menyimpan sejuta keprihatinan dikarenakan keserakahan bermotif kemiskinan. Terdengar kasar, tapi menurut saya, rincian biaya berikut terlalu absurb untuk diterima akal sehat:

– Biaya parkir motor : 5,000
– Biaya tenda per malam : 60,000
– Biaya toilet : 2,000 per visit
– Air mineral 600ml : 10,000
– Sewa snorkling lengkap : 50,000
– Sewa jukung ke pulau kelapa : 15,000/orang PP
– Sewa jukung kapasitas 3 orang untuk melihat lumba2 ke tengah laut : 250,000

Biaya untuk tenda yang menurut saya sangat absurb karena wisatawan hanya ingin bermalam dengan menikmati cahaya bintang, dan itu dipatok harga per malam, tanpa mengenal kapasitas tenda. Jadi mau itu tenda bivak kapasitas 1 orang juga harganya sama saja. Saya sendiri tidak dapat mengerti bagaimana ceritanya harga sewa lapak tenda sebegitu mahalnya, apakah ada fasilitas yang diberikan untuk kompensasinya? Ooh tidaak. Anda hanya akan diperbolehkan membuka tenda saja, saya gak tahu apa yang terjadi apabila kita menolaknya. Lho, toh itu bukan retribusi resmi dari pemerintah atau pemilik pulau atau apapun itu yang bersifat resmi.

Contoh diatas sebenarnya hanya satu diantara sejuta perkara lainnya di daerah wisata. Harga yang tidak masuk akal, retribusi berulang kali dan harga toilet yang membuat berpikir 2 kali hanya untuk buang air kecil. Contoh lainnya saja di kawasan Gunung Salak Endah, begitu saya masuk ke gerbang utama ada retribusi sekian rupiah, kemudian ketika mau masuk ke curug Cigamea, bayar parkir lagi, lalu bayar biaya masuk lagi. Sampai didalam, harga popmie menjadi seharga ayam goreng, dan lagi-lagi didepan toilet ada preman yang siap meminta uang yang katanya “receh” kepada Anda. Maksud saya, kenapa semua embel2 itu tidak dijadikan satu dalam satu retribusi? Jadi wisatawan juga tidak perlu terus2an keluar uang?  Dan tolong, semua harga itu masuk diakal! Anda tentunya tidak mau membeli es kelapa seharga 10,000 rupiah bukan?

Ketika wisata domestik menjadi destinasi populer, hal ini kerap terjadi dan melihat hal ini hati saya menjadi miris. Bagaimana pengawasan pemerintah dalam hal ini (saya tidak perlu menjabarkan bagaimana kepedulian pemerintah terhadap daerah wisata disini), dan juga kesadaran masyarakat sekitar yang seharusnya tidak memanfaatkan daerah wisata untuk objek pemerasan! Miris sekali ketika masyarakat lokal sudah melihat wisatawan sebagai kantong uang berjalan, apapun yang mereka jual, apapun yang mereka sediakan harus dibayar mahal! Apakah logis, untuk mencapai suatu daerah wisata Anda perlu ber-offroad ria mempertaruhkan kendaraan Anda bahkan keselamatan Anda, dan sampai dilokasi, malah Anda harus mengeluarkan uang diluar akal nalar Anda?

Sebagian dari Anda mungkin menganggap pungli-pungli itu sebagai hal yang biasa, mungkin Anda punya uang lebih. Namun maaf, opini saya adalah apabila daerah wisata sudah mengkomersialisasikan segala sesuatu tanpa fasilitas yang menunjang, itu sama saja dengan bunuh diri secara perlahan.

#Think again kalau Anda ingin berlibur ke suatu daerah wisata populer di negri kita ini. Siapkan uang lebih, dan lakukan desk research terlebih dahulu sebelum Anda pergi.. sehingga Anda dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Salam adventure!

Safety Riding – Kesalahan Fatal Dalam Group Riding

Gambar diatas tidak sepenuhnya benar dan dapat dijadikan acuan!

Berbekal obrolan dengan Jack Xventure dan Mario Iroth tempo hari mengenai pengalaman masing-masing saat group riding saat touring. Saya jadi teringat pengalaman diri sendiri dan bahkan kesalahan yang kami obrolin itu pun saya perbuat karena ketidaktahuan saya. Jadi hal ini Berlandio rasa perlu sekali untuk dikulik dan di share untuk semua riders yang sering group riding.

Group riding. Sering sekali dianggap bahwa ketika riding, satu rombongan/group itu harus tetap pada formasinya, bahkan kalau bisa tidak boleh putus! Pernah saya lihat dengan mata kepala sendiri, group riding dengan beiringan 40 motor! Jarak satu motor dengan yang lainnya terlalu dekat. Ditambah lagi dengan SOP yang tidak tertulis, yaitu hand code, foot code bahkan sirine dan strobo.. Dan mereka bilang, “Itu cara kita riding bro kalau touring!”.

Sekarang, saya akan coba memberi sedikit masukan, 2 masalah utama yang sering kita lihat di group riding adalah jarak yag sangat dekat antara masing-masing motor dalam group, dan visual scanning yang tidak baik.  Hasilnya, kita sering lihat pada kecelakaan yang menyebabkan motor satu dan lainnya bertabrakan ketika group riding. OK, jadi ini beberapa ada masukan dari saya:

  • Pertama, rubah Mind Set Anda! Touring bukanlah perjalanan dengan motor untuk menuju satu destinasi secepat-cepatnya sehingga ada mind set arogan bahwa group ride harus di prioritaskan, kalau perlu truk disuruh minggir ke gravel karena ada rombongan mau lewat. Touring terbagi atas 2 kata: Tour & Riding, berarti menikmati perjalanan Anda dengan riding diatas motor.Motorcycle Training
  • Beri jarak antara motor!  Beri jarak 1,5 sampai 2 detik antara motor atau dengan kata lain, beri jarak seukuran satu motor antara masing-masing peserta riding. Dan jaga jarak tersebut dengan tidak mengekor benar-benar dibelakang motor yang di depan Anda, atau kita kenal dengan formasi zig zag.
  • Group tidak selamanya HARUS dalam satu rombongan! Kalau ada mobil/truk/bus yang memisahkan rombongan, tidak perlu harus cepat-cepat menyalip apalagi di klakson bahkan di toet2 dengan strobo yang haram jaddah sehingga rombongan menjadi satu kembali dengan cepat. Percayalah, Anda tidak akan nyasar dan kehilangan rombongan kalau RC rombongan selalu menunggu di persimpangan jalan apabila rombongan terputus!
  • Hindari hanya melihat motor didepan Anda saja! Sekali lagi, apabila Anda hanya melihat motor didepan Anda karena mengekor tepat dibelakangnya, jarak pandang dan fokus pandangan Anda menjadi sempit. Sebaiknya Anda tetap fokus sampai jarak terjauh sehingga Anda dapat mengantisipasi segala kemungkinan.
  • Maksimal hanya 4-8 motor! Riding dengan 40 motor dalam satu rombongan mungkin kelihatan keren buat di foto dan masuk majalah, tapi berhubung Anda touring untuk jalan-jalan, buatlah hanya maksimal 4-8 motor saja dalam rombongan dengan RC pada tiap-tiap group. Ingat, 40 motor dalam rombongan malah akan menjadikan pengguna jalan lainnya terganggu.
  • Foot Code adalah satu kesalahan yang dapat berakibat fatal! Foot code ya bukan food code, haha. Percayalah sebenarnya saya punya pengalaman buruk tentang foot code ini.. Kode kaki biasanya dilakukan pada group riding untuk memberikan anggota group adanya halangan, jalanan berlubang, warning. Tapi perlu di waspadai, ketika menurunkan kaki untuk kode tersebut, sebenarnya Anda kehilangan kontrol penuh pada motor Anda dan kehilangan keseimbangan ketika Anda harus bermanuver. Ketika misalnya Anda menurunkan kaki kanan, maka Anda tidak akan bisa dengan reflek mengerem belakang saat diperlukan. Bahkan, ada juga yang memberikan foot code untuk meminta jalan, yang bagi sebagian orang justru malah mengganggu. Ketika rombongan tidak terlalu rapat dan jarak pandang cukup, sebenarnya foot code tidak diperlukan. Hand code lebih aman untuk memberikan kode, itu pun menggunakan tangan kiri.  Tapi jangan salah, foot code juga bisa dipergunakan hanya pada kasus tertentu, misalnya ketika jalan gelap dan terdapat lubang dijalan yang dapat menyebabkan kecelakaan.

Semoga dapat menambah wawasan dan silahkan mengomentari untuk semua pendapat dan kritik.